Sabtu, Juli 25, 2009

Ghibah

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang dalamnya seperti antara timur dan barat (sangat dalam, seakan tak berujung). (HR. Bukhari dan Muslim).

Lidah adalah organ yang sungguh menakjubkan. Organ ini adalah organ yang banyak berperan dalam mengeluarkan kata-kata. Namun bila kita tidak pandai menjaga lidah, maka lidah kita bisa mendapat penyakit yang lebih berbahaya daripada sariawan. Di antara penyakit-penyakit lidah itu adalah ghibah (bergunjing membuka aib orang lain), fitnah, mengejek, namimah (mengadu domba), dan dusta.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)

Ghibah adalah membicarakan aib yang memang ada pada seseorang, terutama dengan maksud merendahkan. Aib di sini adalah segala hal yang apabila dibuka, maka orang yang mempunyai hal tersebut, pada umumnya, akan merasa tidak senang, malu, atau marah. Aib bisa berupa cacat/kekurangan pada fisik, perbuatan buruk yang tidak mesti diungkapkan kecuali di depan hakim, kelemahan ekonomi, dsb.

Ghibah ini sudah menyebar luas di masyarakat kita. Orang-orang sudah tidak lagi memiliki rem yang pakem untuk menghentikan kebiasaan bergunjing ini. Hal ini disebabkan kurangnya iman dalam dada mereka. Jika saja mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, tentu mereka hanya akan berbicara yang baik-baik saja, dan ketika tidak ada hal baik yang bisa dibicarakan, mereka akan diam dan menahan lidah mereka. Namun keimanan yang lemah tidak sanggup membuat mereka melakukan hal tersebut.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata-kata hanya perkara yang baik atau diam. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Begitu juga barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia memuliakan para tetamunya. (HR. Bukhori dan Muslim)

Bahkan ada manusia yang tidak hanya membicarakan aib orang di luar keluarganya, tetapi juga membuka aib keluarganya, aib pasangannya, aib anak-anaknya, aib saudara-saudaranya, dsb. Memiliki satu anggota keluarga seperti ini di dalam rumah, sama halnya dengan tidak memiliki rumah. Karena fungsi rumah yang diantaranya adalah menutupi aib keluarga telah dirusak oleh manusia semacam ini.

Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. (QS. Al-Baqarah: 187)

Allah menggambarkan suami-isteri itu seperti pakaian yang saling menutupi satu sama lain. Namun apa jadinya bila isteri telah membuka aib suami, dan suami membuka aib isteri? Apa jadinya bila orangtua membuka aib anak, dan anak membuka aib orangtua? Bagaimana halnya jika kakak membuka aib adik, dan adik membuka aib kakak? Kegilaan macam apa ini?

Maka penyakit ghibah ini haruslah ditinggalkan dan diganti dengan kalimat-kalimat yang baik dan menahan lisan. Kecuali jika Anda ingin menjadikan keluarga dan masyarakat Anda sebagai keluarga dan masyarakat yang saling gunjing dan bermusuhan.

Penyakit ghibah ini juga didorong oleh penyakit-penyakit lain seperti iri, sombong, dan dengki. Sebagian kita sering menganggap diri sendiri sebagai manusia sempurna tanpa cacat, hingga merasa berhak untuk merendahkan orang lain dan menggunjingkan aib orang lain. Padahal aibnya sendiri –mungkin- lebih banyak dari orang yang digunjingi. Atau mungkin karena iri akan kesuksesan dan kebahagiaan orang lain, kita mungkin mencari-cari keburukan orang tersebut untuk disebar-luaskan.

Maka bagi Anda yang ingin sembuh dari penyakit ini, tentu Anda harus berusaha untuk tawadhu, merasa diri tidak lebih tinggi dari orang lain, bahkan merasa bahwa diri kita adalah manusia paling buruk di dunia. Pandanglah diri Anda sebagai orang yang harusnya banyak beristighfar. Ingat-ingatlah dosa-dosa Anda, maka Anda akan segan untuk membicarakan keaiban orang lain. Dan tingkatkan rasa kasih-sayang di dalam hati Anda, hingga timbul rasa peduli yang benar terhadap orang lain, dan bukannya menusuk mereka dari belakang. Jantung yang tertusuk pisau memang sakit sekali, tetapi lebih sakit lagi hati yang ditusuk oleh kata-kata jahat para pengghibah. Orang yang digunjingi mungkin hanya bisa menahan rasa sakit yang terus menyiksanya. Tanpa pengobatan kejiwaan sebagaimana diajarkan agama untuk berdzikir mengingat Allah dan mengadukan segala halnya kepada Allah, mungkin orang yang digunjingi akan mengalami depresi berat. Atau kemungkinan kedua, dia akan balas menggunjing hingga kedua belah pihak tak lagi tertolong dari penyakit berbahaya ini.


Sumber : http://hotarticle.org

Tidak ada komentar: